Are you a member? sign in or take a minute to sign up

Cancel
logo

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pengadilan Negeri Banda Aceh

Jalan Cut Meutia No. 23 Kota Banda Aceh - ACEH. Email : it.pnbandaaceh@gmail.com

Mahkamah Agung RI

Sistem Informasi Penelusuran Perkara

IKON KOTA BANDA ACEH

MASJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam.

Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir.

MRB_Banda Aceh

MRB sendiri terus dilakukan renovasi-renovasi, yang terakhir dilakukan pada tahun 2016. Kondisi terbaru MRB saat ini telah direnovasi dengan tampilan yang lebih menarik dan fungsional dengan memakai payung di area yang dahulunya taman, demi kemudahan jamaah melakukan shalat atau untuk berteduh.

MUSEUM TSUNAMI

Museum Tsunami Aceh adalah sebuah museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami tahun 2004. sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

museum_tsunami(Tampak luar)

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

meseum_ts_rk(Tampak dalam)

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini. Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi. (wikipedia)

MUSEUM RUMOH ACEH

Museum yang didirikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banda Aceh ini didirikan pada tahun 1915. Bangunan museum Rumoh Aceh ini sudah dibuat pada masa kolonial Belanda tahun 1914 di Semarang, yang kemudian di pindahkan ke Aceh.

rumoh_aceh
Didalam Rumoh Aceh, terkandung banyak makna dari budaya Aceh sendiri, salah satu contohnya yaitu tinggi pintu yang hanya sekitar 120-150 cm, hal ini bertujuan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk, makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya.
Pada museum rumoh Aceh terdapat 3 bagian utama yaitu, seuramoë keuë (serambi depan) dan seuramoë teungoh (serambi tengah) yang berisi peralatan seni music dan pajangan-pajangan lukisan tokoh pahlawan dan seuramoë likôt (serambi belakang) yang berisi peralatan dapur.







  • Pengumuman MARI

  • tidak dapat menampilkan berita ...
  • Pengumuman Badilum

  • tidak dapat menampilkan berita ...